Tafakur

CIRI-CIRI ALIRAN SESAT

Artikel ini hanya menyebutkan ciri-cirnya saja, dan ciri-ciri ini diambil dari gambaran umum berbagai macam paham dan aliran yang sudah disebutkan oleh para ulama. Dan adalah sangat penting bagi masyarakat umum untuk mengetahuinya.

- Menggunakan al-Qur’an atau Hadis Untuk Mendoktrin atau Mempengaruhi Korbannya . Karena setiap orang Islam tahu bahwa al-Qur’an itu wahyu Allah, dan Hadis itu sabda Rasulullah Saw. yang tidak pantas dibantah, maka banyaklah orang yang terpedaya oleh doktrin mereka. Seandainya
mereka menggunakan selain keduanya, sudah sejak awal doktrin mereka pasti ditolak. Terbukti, al-Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Mushaddeq, Ahmadiyah, Kerajaan Eden, N11, Qur’an Suci, Islam Jama’ah, dan Inkar Sunnah, adalah aliran sesat yang jelas-jelas menggunakan ayat-ayat al-Qur’an.

Bila dinyatakan, “Setiap yang mengambil dasar dari al-Qur’an dan hadis itu pasti benar!” Maka kita bisa menjawab, bahwa “al-Qur’an atau Hadis itu memang benar, tetapi penjelasan orang terhadapnya lah yang belum tentu benar”. Maka sikap kita ketika ada orang yang menjelaskan ayat al-Qur’an atau hadis, waspadailah dengan cara mengkonfirmasikannya kepada para guru atau alim ulama yang sudah dikenal dan diakui di masyarakat. Yang sedemikian agar kita selamat dari penjelasan yang ganjil atau sesat yang seringkali menipu kalangan awam sehingga diyakini sebagai kebenaran.


- Menanamkan Rasa Percaya Diri yang Terlalu Kepada Pengikutnya . Terbukti, para pengikut aliran sesat itu seringkali berani menceramahi atau menyalahkan orang, padahal mereka baru belajar 2 minggu atau satu bulan. Mereka berani mengkaji ayat al-Qur’an atau hadis di depan orang lain, padahal tidak ada bekal yang cukup untuk itu. Lebih buruk lagi, mereka merasa paling benar, dan orang lain dianggap salah. Ini akibat rasa percaya diri yang terlalu tinggi yang mendorong mereka menjadi orang-orang sombong. Sikap ekslusivisme (merasa istimewa) seperti ini membuat mereka merasa paling pantas masuk Surga, sedang selain mereka layak masuk Neraka.

- Menyalahi Paham Mayoritas Ulama dan Umat . Umumnya, fatwa-fatwa aliran sesat itu bertolak belakang dari paham mayoritas ulama umat Islam (baik salaf maupun khalaf). Sebut saja di antaranya: Sholat bukan sembahyang tetapi amar ma’ruf nahi munkar, sholat itu hanya satu waktu, puasa itu hanya menahan diri dari makanan yang bernyawa, pergi haji itu bukan ibadah tetapi napak tilas, hadis itu perkataan manusia yang dibuat-buat dan diriwayatkan bukan perkataan Nabi Saw., mengaku jadi nabi, mengaku menerima wahyu, dan lain sebagainya. Rasulullah Saw. sudah memberikan pedoman, bahwa bila ada perbedaan di dalam agama tentang apa saja (termasuk penentuan bulan Ramadhan dan Idul Fitri, atau amalan-amalan kebaikan secara umum), hendaknya kita mengikuti paham ulama yang terbanyak, sebagaimana sabdanya:

Sabda Nabi:

"Sesungguhnya akan ada setelahku kejelekan dan kerusakan. Maka barang siapa yang melihat orang yang memisahkan diri dari jama’ah (mayoritas umat Islam) atau ingin memecah urusan (agama) umat Muhammad Saw. yang secara nyata terjadi, maka perangilah. Sesungguhnya rahmat Allah atas jama’ah. Sesungguhnya syetan berlari bersama orang yang memisahkan diri dari jama’ah”(HR. An-Nasa’i).

“Sesungguhnya umatku tidak akan berkumpul (untuk bersepakat) atas kesesatan. Maka apabila kalian mendapati perbedaan pendapat, hendaklah kalian mengikuti kelompok (ulama) yang terbesar (terbanyak)” (HR. Ibnu Majah)


- Menjauhkan Orang dari Ulama . Paham atau aliran sesat memiliki ciri khas ini, entah menjauhkan orang dari ulama, atau menjauhkan orang dari kesepakatan mayoritas ulama. Bahkan lebih buruk lagi, mereka menanamkan kebencian terhadap ulama. Mengapa? Karena bila orang kembali kepada ulama atau kitab-kitab ulama, maka ia tidak akan terpengaruh oleh paham atau aliran sesat. Ulama dan kitab-kitabnya dalam hal ini dianggap sebagai ancaman sekaligus penghalang bagi orang-orang sesat untuk menyebarkan pahamnya. Secara otomatis berlakulah hukum ini, “Barang siapa yang sering berkumpul dengan ulama atau hadir di majlis pengajian para ulama, jauh dari peluang kesesatan..

wallahu a'lam bishshawab..

NASEHAT & TAUBAT

Mungkin pantas untuk kalimat pembuka untuk mengawali artikel  ini adalah perkataan Muhammad bin Wasi, “Kalau seandainya dosa memiliki bau niscaya tak ada yang sudi bermajlis denganku (karena saking busuknya bau dosaku).”

Ya, kalian tidak tahu betapa busuknya jiwa ini.

Ya-Allah, aku malu. Aku malu kepada-Mu bila harus menasehati hamba-hamba-Mu padahal Engkau lebih tahu siapa sebenarnya hamba-Mu ini. Tertutupnya dosa-dosa yang hamba lakukan adalah karena kasih sayang-Mu yang tercurah selalu.


Air mata taubat dan hati yang menghadap Allah

dengan hancur sehancur-hancurnya adalah keadaan terbaik seorang hamba ketika bermunajat kepada-Nya. Orang yang menitikkan air mata penyesalan seperti inilah yang justru mendapat lezatnya iman, yang jauh lebih indah daripada semua kenikmatan dunia. Dosa-dosa yang membuat hati menjerit seperti inilah yang menghantarkan kepada kedekatan kepada sang pencipta.

Rasululloh sendiri bersabda, “
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, kalau kalian tidak berdosa niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah kemudian Dia mengampuni mereka.” (HR. Muslim)
Maka berbahagialah bila kita selalu memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kita. Terlebih dengan hati yang menangis, dan menghiba rahmat-Nya. Dan Penulis merindukan hati yang menjerit seperti itu. Sekelam apapun dosa kita, sebesar apapun kemaksiatan kita, dan setinggi apapun kesalahan kita, Allah akan senatiasa membuka pintu tobat bagi hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman, “
يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Duhai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.” (az-Zumar : 53).
Panggilan yang indah dari Allah; duhai hamba-hamba-Ku.  Duhai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, yang selalu mendzalimi dirinya sendiri dengan dosa-dosanya, jangalah kalian berputus asa dari rahmat-Ku. Rahmat-Ku mendahului murka-Ku duhai hamba-Ku.
Ya. Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Semoga bermamfaat,

Jawaban Bagi Penentang POLIGAMI

- Penentang Pertama : Ada beberapa orang yang menentang adanya poligami dengan berdalih pada surah an-Nisa’ ayat 129 berikut ini :

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا. النساء : ١٢٩
“Dan kalian sekali-kali tidak akan mampu berlaku adil di antara para wanita (istri-istri kalian), walaupun kalian sangat menginginkannya, karena itu janganlah kalian condong pada tiap-tiap kecenderungan (istri yang kalian cintai saja) sehingga kalian biarkan yang lain seperti terkatung-katung, dan
jika kalian mengadakan perbaikan dan memelihara diri dari kecurangan, maka sesungguhnya Alloh Ta'ala adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(Q.S. [4] An-Nisa’ : 129).

- Jawaban : Ketahuilah bahwa yang dimaksud kata-kata “ADIL” di dalam ayat tersebut menurut pendapat mayoritas Ulama' ahli tafsir adalah adil di dalam urusan nafkah dan giliran, bukan adil di dalam urusan hati dan cinta. Karena keadilan urusan hati dan cinta itu hanya milik Alloh Ta'ala saja, dan tidak ada satu orang-pun yang mampu melakukannya sebagaimana hal tersebut juga terjadi kepada diri Rosululloh SAW.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ فَيَعْدِلُ، وَيَقُولُ : اللَّهُمَّ هَذَا قِسْمِي فِيمَا أَمْلِكُ، فَلاَ تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ {رواه أبو داود (٢١٣٤)، والترمذي (١١٤٠)، وابن ماجه (١٩٧١)، وأحمد (٢٥١٦٥)}. وَقَالُوا : يَعْنِي الْقَلْبَ، وفي رواية : الْحُبّ
Dari Aisyah r.a, berkata : Adalah Rosululloh SAW, membagi kepada para istrinya, lalu beliau berusaha berbuat adil, dan beliau berdo’a :
“Ya Alloh, ini adalah bagian ku di dalam apa yang telah aku miliki, maka janganlah Engkau mencela kepada ku di dalam apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki”. (H.R. Abu Dawud, No Hadits : 2134, dan At-Tirmidzi, No Hadits : 1140, dan Ibnu Majah, No Hadits : 1971, dan Ahmad, No Hadits : 25165). Dan mereka berkata : (Yang dimaksud adalah HATI, dan di dalam satu riwayat adalah CINTA.)

Dan di dalam hadits shohih al-Bukhori dan Muslim juga telah di jelaskan bahwa ‘Aisyah adalah istri yang paling dicintai oleh Rosululloh SAW, sedangkan para istri yang lain juga telah mengetahui hal itu. (Ihya’ Ulumiddin 2/60).

Hal ini sebagai bukti bahwa mencintai salah satu istri melebihi cintanya kepada istri-istri yang lainnya adalah boleh, asalkan tetap adil di dalam masalah pembagian nafkah dan giliran.

Dan bahkan di dalam hadits shohih al-Bukhori No : 5212 dan Muslim No : 1463 juga telah dijelaskan bahwa salah satu istri Rosululloh SAW yang bernama Saudah binti Zam’ah telah merelakan giliran hari-harinya untuk ‘Sayyidah Siti Aisyah ra. Hal ini beliau lakukan agar Rosululloh SAW tidak jadi menceraikan dirinya.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : خَشيت سَوْدَة أن يطلقها رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقالت : يا رسول الله، لا تطلقني واجعل يومي لعائشة، ففعل. تفسير ابن كثير
Dari Ibnu Abbas ra berkata : Saudah takut kalau Rosululloh SAW menceraikan dirinya, lalu dia berkata :  "Wahai Rosululloh, janganlah engkau menceraikan diri ku, dan jadikanlah hari-hari ku untuk ‘Aisyah, lalau Rosululloh SAW melakukannya”. (Periksa Tafsir Ibnu Katsir).

Dan perlu di ingat bahwa istri Rosululloh SAW saat itu berjumlah sembilan orang, dan karena beliau memberikan gilirannya Saudah binti Zam’ah kepada ‘ Sayyidah Siti Aisyah ra, maka beliau menggilir para istri dalam waktu delapan hari dengan pembagian masing-masingnya selama satu hari.

Coba bayangkan wahai para wanita muslimah zaman ini, bagaimana perasaan kalian kalau seandainya selama delapan hari baru mendapat giliran satu hari saja...???
Apakah kalian akan meniru gaya hidup para istri Rosululloh SAW ataukah gaya hidup orang-orang barat...???.


- Penentang Kedua : Ada orang yang menentang poligami dengan alasan bahwa orang yang berpoligami itu hanya menjadi budak hawa nafsu belaka dan bukan karena adanya dasar syari’at atau ingin mejalankan sunnah Rosululloh SAW.

- Jawaban : Ketahuilah, bahwa orang yang menentang adanya poligami dengan alasan seperti itu adalah mereka yang sok suci dan sok mampu menundukkan hawa nafsunya. Kalau memang seseorang mampu menundukkan nafsu syahwatnya dengan memperbanyak ibadah yang lain, maka hal itu lebih baik, namun bagi orang yang tidak mampu maka poligami adalah solusinya karena syari’at Islam itu telah mengatur bagaimana seseorang dapat menyalurkan nafsu syahwatnya ke tempat-tempat yang halal dan berpahala, oleh sebab itu Alloh SWT telah memberikan solusi terbaik dengan dihalalkannya poligami.


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : وفي بضع أحدكم صدقة، قالوا : يا رسول الله، أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال : أرأيتم لو وضعها في حرام أكان له وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر. رواه مسلم (٧٢٠، ١٠٠٦) عن أبي ذر رضي اله عنه
Rosullulloh SAW bersabda : “Dan di dalam persetubuhan salah seorang di antara kalian adalah sedekah”, mereka bertanya : Wahai Rosululloh, apakah salah seorang di antara kami mendatangi syahwatnya dan ada baginya di dalamnya pahala...?,

beliau menjawab : “Apakah pendapat kalian kalau seseorang meletakkannya di dalam yang haram apakah ada baginya dosa...? Maka demikian halnya apabila dia meletakkannya di dalam yang halal, maka ada baginya pahala”. (H.R. Muslim No : 720, 1006) dari Abu Dzar ra.

Di dalam syarah kitab al-Arba’in an-Nawawi dijelaskan :

إعلم، أن شهوة الجماع شهوة أحبها الأنبياء والصالحون، قالوا : لما فيها من المصالح الدينية والدنيوية، ومن غض البصر وكسر الشهوة عن الزنا وحصول النسل الذي تتم به عمارة الدنيا وتكثر به الأمة إلى يوم القيامة، قالوا : وسائر الشهوات يقسي تعاطيها القلب إلا هذه، فإنها ترق القلب
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya syahwat jima’ adalah syahwat yang dicintai oleh para Nabi dan orang-orang sholeh, mereka berkata :
Karena sesuatu yang ada di dalamnya dari kemaslahatan agama dan dunia, dan dari menahan pandangan dan memecahkan syahwat dari perzinahan serta sampainya keturunan yang meyempurnakan ramainya dunia dan banyaknya umat manusia hingga hari kiamat, mereka berkata : Segenap syahwat pelampiasannya akan mengeraskan hati kecuali yang ini, karena sesungguhnya syahwat yang ini akan melembutkan hati. (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah, 83).
Dan perlu menjadi catatan bahwa istrinya Nabi Dawud AS berjumlah sembilan puluh sembilan orang, sedangkan istrinya Nabi Sulaiman berjumlah seribu orang.

- Penentang Ketiga : Ada orang yang menentang adanya poligami dengan hadits yang menceritakan tentang kisah Sayyidina Ali bin Abu Tholib ra. yang bermaksud berpoligami, lalu dilarang oleh Rosululloh SAW.

Jawaban : Ketahuilah, bahwa Rosululloh SAW tidak melarang secara mutlak adanya poligami kepada Sayyidina Ali bin Abu Tholib ra, namun karena ada satu sebab, yaitu yang hendak dikhitbah oleh Sayyidina Ali bin Abu Tholib ra. adalah putrinya Abu Jahal, sedangkan Abu Jahal adalah musuh Islam, sehingga tidak mungkin putri Rosululloh SAW akan dimadukan dengan putrinya Abu Jahal. Dan berikut ini adalah salah satu redaksi hadits tersebut :


عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ خَطَبَ بِنْتَ أَبِي جَهْلٍ وَعِنْدَهُ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا سَمِعَتْ بِذَلِكَ فَاطِمَةُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ : إِنَّ قَوْمَكَ يَتَحَدَّثُونَ أَنَّكَ لاَ تَغْضَبُ لِبَنَاتِكَ وَهَذَا عَلِيٌّ نَاكِحًا ابْنَةَ أَبِي جَهْلٍ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ حِينَ تَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ : فَإِنِّي أَنْكَحْتُ أَبَا الْعَاصِ بْنَ الرَّبِيعِ فَحَدَّثَنِي فَصَدَقَنِي وَإِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ مُضْغَةٌ مِنِّي وَإِنَّمَا أَكْرَهُ أَنْ يَفْتِنُوهَا، وَإِنَّهَا وَاللَّهِ لاَ تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ عِنْدَ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَبَدًا، فَتَرَكَ عَلِيٌّ الْخِطْبَةَ. رواه مسلم (٤٤٨٥). حديث صحيح
Dari Al-Miswar bin Makhromah, sesungguhnya Ali bin Abu Tholib mengkhitbahi putrinya Abu Jahal, sedangkan di sisinya ada Fathimah putrinya Rosululloh SAW, lalu tatkala Fathimah mendengar hal itu, maka ia mendatangi Rosululloh SAW lalu berkata kepada beliau :
Sesungguhnya kaum-mu menceritakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan marah kepada putri mu, dan ini Ali menikahi putrinya Abu jahal, lalu Rosululloh SAW berdiri, lalu beliau membaca syahat, kemudian bersabda :
“Amma Ba’du” : “Sesungguhnya aku telah menikahkan Abu al-Ash bin ar-Rabi’, lalu dia bercerita kepada ku dan berbuat benar kepada ku, dan sesungguhnya Fathimah binti Muhammad adalah sekerat daging dari ku, dan sesuggguhnya aku hanyalah tidak suka kalau mereka membuat fitnah kepadanya, dan sesungguhnya dia demi Alloh tidak akan berkumpul putrinya Rosululloh dengan putrinya musuhnya Alloh di sisi satu orang lelaki untuk selama-lamanya”.  Lalu Sayyidina Ali bin Abu Tholib ra. meninggalkan khitbahnya”. (H.R. Muslim No : 4485).

Dan perlu menjadi catatan, bahwa Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra. setelah ditinggal wafat oleh Sayyidah Siti Fathimah Az-Zahro ra. beliau juga berpoligami.

Wallohu A’lam....

Malam Lailatul Qadr"antara mitos dan legenda"


Malam yang seharusnya menjadi rahmat semesta alam, berdiri diantara mitos dan legenda


Malam turunnya Al qur an, menjadi sebuah kegamangan tersendiri. Hikayatnya hanya orang-orang suci, para wali, dan orang-orang sakti, yang mampu mendapatkan malam lailatul qodar.

Kita orang awam menjadi penonton yang terlongok, menunggu cerita kemurahan hati mereka-mereka yang nanti akan mengkhabarkannya kepada kita semua. Seumpama anak kecil yang menunggu di dongengi cerita ‘nina bobok’ sebelum tidur oleh Ibunya.

Begitulah kita orang ‘awam’ yang belajar agama ‘pas-pasan’ hanya dari uztad kampung yang tidak lulus sekolahan. Ya, itulah potret saya, kaum urban yang berangkat dari kampung hanaya semata berbekal ke nekad-an.

Namun itu penggalan cerita, sebagaimana manusia itu semua ada masanya, ketika kesadaran beragama muncul di dada. Rasanya semua ingin diketahuinya. Apalagi perihal turunnya Al qur an. Sebuah momen paling penting dalam kehidupan beragama anak manusia. Sebuah malam yang menjadi ‘titik balik’ kesadaran umat Islam dalam membangun peradabannya.

Suatu malam yang layak diketahui dan layak didapatkan siapa saja. (Yaitu) Semua umat Islam yang menghendaki perubahan dalam hidupnya. Sebab dalam malam itu, turun RUH (Jibril) untuk mengatur segala urusan manusia dan alam semesta. “Pada malam itu turun malaikat dan Ruh (Jibril) dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS. Al Qadr; 4)

Maka sayang, jika kita tidak turut ambil bagian bersama mereka, agar segala urusan kita, nantinya juga di akomodasi dan di perhatikan serta diurus penyelesaiannya  oleh Ruh (Jibril).

Namun bagaimana mendapatkan malam itu ?. Apa daya ilmu tidak punya ?!.

Bagaimana keadaan malam lailatul qadr ?. Hati bertanya, mencari di semua literatur, namun banyak jawaban  bagai sebuah mitos dan legenda. Apa benar malam itu ada di jaman sekarang ini ?.

Apakah malam lailatul qadr semacam malam seremonial saja ?. Sebagaimana manusia memperingati hari proklamasi. Memperingati hari kelahiran. Dan hari-hari penting lainnya ?.

Jika jawab ‘iya..!’. Timbul pertanyaan, mengapa manusia dari jaman dahulu hingga sekarang ini. Senantiasa berbondong-bondong ‘itikaf’ di masjid menunggu datangnya malam itu ?. Tidak mungkin tidak ada malam lailatul qadr. Sebab semua umat Islam meyakininya.

Jika jawabnya ‘bukan.. !’. Adakah manusia yang memberikan kesaksiannya dan membuktikan bahwa dia pernah mendapatkan malam yang dimaksud itu ?.

Maka keadaan malam lailatul qadr menjadi ‘mistery’ yang terbarukan di sepanjang peradaban Islam itu sendiri. Berada diantara mitos dan legenda.

Maka untuk menjawab semua itu, mari kita coba cari rujukannya. Sekedar untuk mencari pijakan sebagai loncatan langkah ke depan. Dalam upaya kita untuk membuktikan malam lailatul qadr. Mencari referensinya bahwa malam itu benar-benar ada.

“Jangan Engkau gerakkan lidahmu karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Jika Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya.” (QS. Al Qiyamah; 16-18)

Mari kita sandingkan pemahaman ini, dengan malam lailatul qadr. Jika kita meyakini bahwa malam itu adalah malam turunnya Al qur an. Kita sudah mendapatkan referensinya, perihal apakah yang di maksudkan dalm malam ‘kemuliaan’ turunnya Al qur an (lailatut qadr) itu. Bahwa ;

Hakekatnya, malam itu adalah malam ‘MEMBACA !’. Malam itu para malaikat membawa ayat-ayat Al qur an untuk dibaca oleh seluruh umat manusia, terutama manusia yang meyakini Islam sebagai agama mereka.

Malam ‘inagurasi’ bagi umat Islam. Adalah mengulang momen saat ketika Rosululloh pertama kali diajarkan ‘MEMBACA” oleh Jibril. Dan seluruh umat Islam akan mendapatkan kesempatan yang sama, pengajaran yang sama, sebagaimana beliau. Tentunya dalam kadar dan ukurannya masing-masing, sesuai keadaan manusia itu sendiri.

Masalahnya adalah maukah umat Islam ‘meneladani’ bagaimana cara Rosulullooh “MEMBACA !’ ?!. Sangat-lah sedikit orang, yang mau meniru cara belajar Rosululloh ini. Manusia datang dengan kehebatan ilmunya masing-masing. Mereka menggunakan teknik membaca yang sudah di kemas sedemikian rupa. Inilah problematika umat Islam.

Sementara, Rosululloh men’taati’ benar-benar perintah; “Janganlah Engkau gerakkan lidahmu cepat-cepat (menguasai) nya .“

Artinya saat kita membaca,   ‘diam’ dan dengarkan, jangan terburu nafsu, jangan tergesa-gesa, rasakan dengan perlahan saja, dunakan seluruh system ketubuhan kita, gunakan ruh kita, sehingga sampai terasa ‘KLEK’ di hati, masuk ‘KLIK’ . Sampai semuanya tuntas ‘pool’  terkumpul di dada kita.

Jangan terburu-buru dan serakah ingin menguasai semua. Mungkin bagian kita hanya mampu membaca semisal satu ayat saja, ‘Bismillah hirohmanir rohiem’. Ya, kita syukur, sebab bilamana kita mampu membaca satu ayat saja dari Al qur an, sungguh tiada terbilang manfaatnya buat diri kita. (Pada diri Rosulullohpun Al qur an diturunkan ber angsur angsur).

Dan karena itu, dada kita menjadi luas, tenang , damai. Raga kita kemudian merespon, sehingga nampak angin diam, tidak terasa menyentuh kulit. Alam semesta seperti turut bersuka cita atas keberhasilan kita membaca. Seakan-akan ikut mendoa kan kita.

Memberikan selamat.  Mereka me muliakan kita. Mereka bersujud kepada kita. Sebagaimana saat itu alam semesta sujud kepada nabi Adam.Seakan-akan (malam itu) Kita berada diantara (bersama) alam semesta yang tengah me muliakan diri kita.

“Salamun. Hiya hatta matla ‘il fajr .“ Mereka semua (alam semesta) mengucapkan “SALAM”. Doa kesejahteraan terus menerus sampai terbitnya fajar kepada diri kita yang sukses ‘belajar membaca’ ayat Al qur an. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. (Keadaan ini banyak diceritakan kaum sufi melalui bahasa metaphora)

Setelah terkumpul semua , baru kita ‘searching’ kita bangkitakan perlahan-lahan, bersama seluruh entitas kesadaran kita. Mengikuti bacaan yang ada di dalam hati kita. Perlahan saja  kita ikuti bacaan tersebut. Ada kesatuan antara raga, hati, akal, pikiran, perasaan, dan lidah kita yang mengucapkan. Kita lakukan seiring dengan gerak kehidupan kita. Memaknai melalui apa saja yang kita temuai dalam ‘keras’nya kehidupankota.

Sebagai perumpamaaan. Saat saya ceritakan. “Saya mengiris jeruk nipis…saya gigit..cairan masuk..iihhhk..!.” maka setiap orang yang pernah merasakan kecutnya jeruk nipis akan merespon apa yang saya ceritakan.

Maka semisal begitulah saat kita dalam membaca ayat Al qur an yang saya maksudkan. Namun tentunya efeknya ribuan kali lipat dari jeruk nipis. Bahkan dikisahkan gunung pun akan hancur ketika menerima Al qur an.

Sayang sekali, sering kita tidak mau mengikuti kaidah ini. Kita selalu terburu-buru. Banyak dari kita malah hanya ingin mendengar apa yang kita ingin demgar saja. Atau malahan sering ‘kebablasan’, inginnya kita ‘mengajari’ Allah, (untuk) bagaimana seharusnya Allah ‘mengajari diri kita.

Maka menjadi lumrah jika,  saat kita ‘itikaf’ seperti hal-nya memindahkan batal dan tempat tidur kita saja dari rumah ke masjid.  “Lha, Jaka Sembung bawa onta. Gak nyambung gue kata!”.

Inilah esensi yang seharusnya mampu kita maknai !.

Oleh karenanya, dalam pemahaman saya. Sangat penting bagi kita yang ingin menacari malam lailatul qadr adalah persiapan diri kita untuk ‘membaca’. Jadi jangan biarkan ayat-ayat Al qur an turun tidak dibaca oleh kita. Atau kita abaikan begitu saja. Siapakan instrument yang kita butuhkan untuk membaca. Hati, akal, badan, jiwa, ruh, dan seluruh entitas yang diliputi kesadaran kita. “Bacalah, dengan (atas) nama Tuhanmu.” Itulah yang diperintahkan.

Kita sering keliru dalam memaknai malam lailatul qadr ini. Kita seperti tengah mengharap ‘lotre’, atau kita seperti menanti UFO yang akan turun dari langit. Mata kita senantiasa ‘kelap kelip’  mengarap datangnya, kok nggak turun-turun. Maka sampai lebaranpun , ya nggak bakalan turun.

Malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Malam dimana terjadi ‘fase pembalikan’  pada diri manusia. Sebagaimana yang terjadi pada diri Rosululloh.

Bagi yang menetapi dan menadaptkannya nya akan diberikan kemuliaan, diberikan kesuksesan dunia kaherat tanpa batas. Maka inilah malam kemuliaan.

Pada malam inilah terjadinya penyinaran cahaya di hati kita. Hati kita akan dicahayai-Nya dengan perumpamaan seribu bulan. Maka persiapkanlah hati kita. Sucikanlah jiwa kita terlebih dahulu agar mampu menerima turunnya Al qur an di dada kita.

Inilah ‘anugrah’ dari Allah Tuhan manusia atas umat Muhammad. Allah yang akan memberikan cahaya-Nya sendiri ke dalam dada umat Muhammad ini. Tidak lagi melalui AVATAR.

Pertanyaannya maukah manusia dimuliakan-Nya ?.

Maka Allah menjawab sendiri dalam firman-Nya, “Sunguh kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al Insan; 3)

Maka kembalinya, terserah kepada kita untuk menjalani dan memaknainya. Semua sudah di akomodasi oleh Al qur an itu sendiri.  Pada posisi mana kita memilih. “Bersukur ataukah kufur !.” Dengan jalan kemuliaan yang diatawakan pada malam lailatul qadr ini.

Apakah akan menjadikan malam lailatul qadr menjadi sebuah kenicayaan (realitas) ataukan akan menjadi cerita semisal mitos atau legenda saja ?!.

Pilihan ada pada kita semua !.

Akhir kata, artikel ini hanyalah sebagai ‘share’ pemikiran dan pemahaman saja. Kebenaran datang dari Allah. Jika ada kesalahan maka datangya, ada pada diri saya yang fakir, yang tidak memiliki Ilmu. Jikalau itu ada manfaat, sebab  itu karena anda sendiri. Dan jika mengandung ke mudharat, sumbernya berasal dari kebodohan saya adanya. Terima kasih sudah membaca. “Salamun. Hiya hatta matla ‘il fajr .“ Kesejahteraanlah bagi anda semua.


Walohualam

Orang Pinggiran - Bakti Si Kecil Elsa

Tak sampai hati, Elsa membiarkan sang Ibu kelelahan berjuang sendirian mencari nafkah dan merawat kakaknya yang sakit. Demi menyambung hidup, bersama sang nenek bocah kelas 2 sekolah dasar ini rela berkubang di sungai untuk mendapatkan sampah-sampah yang masih bisa dipungut untuk dijual ke pengepul.

Belajar itu memahami bukan sekedar menghapal


Selama kita hidup sesungguhnya tidak ada istilah terlambat atau berhenti belajar. Fungsi utama kenapa kita harus belajar adalah untuk memahami hal yang belum kita pahami. Belajar tidak hanya menuntut ilmu secara formal di sekolah saja, lebih penting lagi belajar dari sekolah kehidupan yaitu belajar dari pengalaman/kegagalan di masa lalu, belajar dari keberhasilan orang lain, belajar untuk menerima kelebihan dan kekurangan orang lain dan seterusnya, terlebih
lagi belajar untuk sabar dan mengerti.

Belajar membaca Al quran misalnya, jangan cuman membaca saja sambil lalu atau asal saja, tetapi galilah isi dari Al quran itu sedalam-dalamnya hingga kita beroleh pengertian dan memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. Setelah kita mengetahui apa sebenarnya yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita, kita perlu menyiapkan diri, dan persiapan itulah yang dinamakan belajar.

Dan perlu digaris bawahi adalah: Seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk belajar, meneliti dan merenungkan kebenaran Al quran, sebanyak itu pula hikmat pengetahuan dan kebaikan yang akan kembali kepada kita. Bila kita hanya menyediakan sedikit waktu atau hanya sekilas saja kita belajar tentang Al quran, maka hikmat pengertian dan kebaikan yang kita peroleh pun juga hanya sedikit.

Kita tidak hanya diperintahkan untuk membaca Al quran saja,  tetapi kita harus merenungkan firman itu siang dan malam. Jadi janganlah kita sekedar membaca dan mendengarkan bacaan Al quran saja tetapi renungkanlah..!

Belajar dan senantiasa merenungkan bacaan Al quran adalah kunci meraih keberhasilan!

Akun Facebook Setelah Kematian


Pernahkah kita berpikir bahwa saat kita menjalani kehidupan hari ini, kita banyak melakukan online, baik itu mengapload foto atau update status di Facebook semuanya dilakukan secara online,Bahkan dengan sengaja agar orang lain melihatnya.

Masalahnya apa yang akan terjadi ketika kita sebagai pengguna meninggal?itulah salah satu masalah yang nyata di sini, kalau sekarang kita memiliki hak untuk menghapus atau merubah pengaturan sehingga ada akses yang dapat dibatasi siapa saja yang dapat melihat, namun setelah kita meninggal ?? 

Apakah kita belum pernah memikirkan akan hal ini? Bagi kaum perempuan, mungkin saat ini merasa bangga dengan berbagi cerita melalui foto-foto cantik yang mengumbar aurat, tebar pesona kesana kemari tapi sepertinya semua itu tidak akan membawa arti semua hanya tinggal kenangan bagi teman yang masih hidup. Di alam kubur,semua itu tidak bisa menyelamatkan kita

Kematian mungkin belum terlintas dalam pikiran kita namun kematian sesuatu hal yang pasti akan dilewati semua orang. Dosa kita akan semakin banyak walau sudah bertahun-tahun wafat,bukankah kita akan tersiksa di alam kubur kalau lelaki melihatnya , dosa kita akan terus meningkat.

Bagi perempuan yang muslim kususnya,tutuplah auratmu sebelum orang lain yang akan menutupmu dengan kain putih.Jagalah harga dirimu, jagalah kesombonganmu. Karena semua yang hidup pasti akan mati. Persiapkan dirimu untuk mati karena itu sangat diperlukan.

Wassalamu'alaikum wr wb. (dari berbagia sumber)




Menyiapkan Anak Menuju Kedewasaan


-Diambil dari bacaan media umat,Edisi 7 December 2011-

Anak-anak sekarang cepat besar. Ya, usia baligh makin maju dibanding zaman orang tuanya. Dulu, anak-anak mulai baligh, paling cepat saat duduk di bangku SMP. Itupun kelas 2 atau 3, sekitar usia 14 atau 15 tahun. Bahkan, ada yang tamat SMA baru baligh. Tapi kini, anak-anak SD, usia 10 tahun pun tak sedikit yang sudah mengalami mimpi basah bagi laki-laki atau menstruasi bagi perempuan. Padahal, secara mental dan pemikiran, mereka belum siap “dewasa”. Ini terlihat dari pola pikir dan perilakunya yang masih “kanak-kanak”. Padahal, baligh adalah batas antara anak-anak dan dewasa.

Tak ada istilah anak baru gede (ABG) atau remaja, yang seolah mengamini kekanak-kanakan mereka. Ini tentu memprihatinkan, mengingat besarnya konsekuensi bagi anak-anak yang sudah baligh, di mana mereka berarti sudah harus siap menjadi manusia seutuhnya. Lantas bagaimana orang tua menyiapkan anak-anaknya menuju gerbang kedewasaan? Berikut ini ada beberapa hal yang harus dipahami:

1. Memahamkan Konsep Baligh



Tanda-tanda kedewasaan anak berupa perubahan fisik akan datang dengan sendirinya, sekalipun tanpa dipersiapkan. Artinya, kita tidak  bisa mematok anak saya sebaiknya baligh usia 15 tahun saja atau nanti kalau sudah SMA saja. Semuanya alami, datang begitu saja tanpa diundang. Yang bisa kita lakukan hanyalah memberi informasi secara terbuka dan jelas kepada anak, mengenai konsep baligh dan perubahan fisik anak.

2. Menyiapkan Aqliyah

Beda dengan perubahan fisik, aqliyah atau pola pikir anak serta mentalnya, tidak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja, melainkan harus “diisi” untuk mempersiapkan kedewasaan. Ya, kerap terjadi pertumbuhan fisik dan akal anak tidak seimbang, di mana fisik sudah bligh, tapi pemikiran masih nol. Idealnya, akil-baligh itu satu paket. Ketika perangkat fisik pada diri anak sudah matang, akal dan mentalnya pun harus menjadi dewasa. Maksudnya, jika organ kelamin primer dan sekunder sudah matang, cara berpikir dan sikap mental anak juga sudah menunjukkan kedewasaan. Caranya, dengan mengajak anak berpikir dan berdialog tentang konsep-konsep kehidupan, khususnya sebagai Muslim. Orang tua harus selalu mengajak anak berpikir, mengajarkan nilai-nilai Islam dan memahamkan berbagai syariat Islam, sehingga begitu baligh sudah siap memikulnya.

3. Tanamkan Tanggung Jawab

Setiap anak punya dorongan untuk mandiri dan bertanggung jawab. Jadi, jangan ambil tanggung jawab mereka. Biarkan mereka menyelesaikan dengan kepercayaan yang diberikan dengan sepenuh hati. Jika mereka berhasil, memang itu yang diharapkan. Jika tidak, jangan serta merta dihukum karena konsekuensi negatif atas kegagalannya saja sudah cukup berat. Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula. Yang penting, ajak anak berkomunikasi atau berdialog agar merasa dianggap benar-benar sudah dewasa.

4. Ajarkan Kemandirian

Anak yang menuju baligh, harus sudah disiapkan untuk mandiri. Tahapan-tahapan yang bisa kita lakukan adalah dengan meneladani jalan parenting-nya Ali bin Abi Thalib. Pada tujuh tahun pertama, jadikan anak sebagai amir atau putra mahkota. Ya, usia golden age ini, anak-anak masih sangat tergantung pada orang tua sehingga  harus selalu dilayani bak pangeran. Tujuh tahun kedua, ajarkan dan jadikan mereka sebagai asir, pelayan, atau tawanan. Maksudnya, mereka harus mulai bisa melayani diri sendiri, bahkan membantu orang lain. Tujuh tahun ketiga, perlakukan anak sebagai wazir atau orang kepercayaan. Tahapan ini jika dijalankan dengan baik, insya Allah akan menghantarkan anak menjadi pribadi yang utuh dan matang.

5. Cukup Pengawasan

Pengawasan diam-diam terhadap anak, merupakan metode ampuh. Ciptakanlah ruang anak untuk 'bebas', tetapi tetap dalam pantauan orang tua. Sehingga, anak merasa memiliki ruang untuk keegoannya sebagai sosok yang mulai tumbuh dewasa, tanpa merasa dikekang. Sebaliknya, orang tua tetap bisa mengawasi perkembangan anaknya, baik fisik maupun mentalnya.[]kholda

Artis Panas Berpolitik, Apa Kata Akhirat?


-Diambil dari bacaan media umat(tampa picture)Edisi 18 July 2010 -

Artis-artis porno mimpi jadi bupati. Sekadar kembang gula menarik wisatawan?

Artis-artis yang biasa mengumbar aurat berduyun-duyun ingin duduk sebagai pemimpin daerah. Ayu Azhari, meski sebelumnya gagal maju sebagai calon wakil bupati Sukabumi, kini mengincar kursi wakil walikota Tangerang Selatan. Lalu Julia Peres yang dicalonkan jadi calon wakil bupati Pacitan. Belum reda, menyusul Maria Eva yang akan maju jadi calon wakil bupati Sidoarjo.

Secara kebetulan, track record ketiga artis tersebut seragam, tak jauh-jauh dari kesan seksi, porno, bahkan mesum. Ayu Azhari dikenal suka berpakaian minim, berpose telanjang dan kawin cerai. Julia Peres juga setali tiga uang, suka menonjolkan aurat, bahkan jadi duta kondom yang berkonotasi mengajak seks bebas. Lebih parah Maria Eva, rekaman aksi berzinanya dengan Yahya Zaini (waktu itu anggota DPR) tersebar ke seantero dunia.

Tentu kita patut bertanya, mau jadi apa negeri ini jika pemimpinnya berlatarbelakang seperti itu? Khususnya bagi kaum perempuan, apa yang akan diteladani dari sosok artis-artis porno itu? Terlebih tampak nyata bahwa mereka belum bertobat dari kepornoannya.

Pragmatisme

Pesona artis memang menjadi magnet luar biasa bagi masyarakat awam. Meski artis itu dikenal sebagai pelaku maksiat sekalipun, tetap dielu-elukan. Dicium tangannya, dipeluk dan diajak foto bersama bila berjumpa. Apalagi bila sang artis turun dengan membawa bantuan-bantuan sosial, serta merta akan disambut bak dewi penolong.

Termasuk ibu-ibu, akan merasa sangat bangga bila berjumpa artis idolanya yang selama ini ia tonton di sinetron kesayangannya. Tapi di saat lain, mereka berteriak ketika anak gadisnya berperilaku layaknya artis, suka tampil seksi, susah diatur, amoral atau bahkan terjerumus pergaulan bebas.

Mereka lupa bahwa para artis yang mereka puja itulah penyebabnya. Artis adalah ikon gaya hidup permisif (serba boleh), hedonis, glamour, konsumtif, dan perilaku bebas lainnya. Artis adalah “teladan” gaya hidup ala Barat, yang meracuni pola pikir dan perilaku anak-anak kaum Muslimin. Ya, masyarakat tak menyadari betapa besar “jasa” sang artis sebagai penarik gerbong gaya hidup bebas.

Tak heran bila sebagian masyarakat malah gembira dengan pencalonan para artis untuk menjadi pemimpin daerahnya. Namun, alasannya sangat memprihatinkan, dangkal, bahkan bisa dibilang bodoh. Seperti menjadikan daerahnya lebih terkenal bila dipimpin artis, atau sekadar menarik wisatawan.

"Pacitan jadi terkenal sampai Australia dan Amerika, karena saya sudah diwawancari wartawan dari sana, gara-gara Jupe masuk bursa," ujar Ketua DPC Hanura Kabupaten Pacitan, Sutikno.

Rani (25), warga Pacitan, mengaku senang-senang saja Jupe bisa dicalonkan di Pacitan. "Adanya Jupe, Pacitan makin dikenal, paling tidak pariwisata Pacitan bisa makin maju," katanya seperti dikutip kapanlagi.com.

Alasan pragmatisme seperti itu, menunjukkan betapa rendahnya pola pikir sebagian masyarakat terhadap hakikat sebuah kepemimpinan. Bagaimana mereka begitu mudah mempercayakan urusan yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak kepada pihak-pihak yang tidak berkompeten? Apalagi, mereka yang dengan sadar diri meminta jabatan?

Tentu saja, yang paling keterlaluan adalah parpol pengusungnya. Seolah tidak ada figur lain yang lebih layak. Apalagi alasan mengusung artis pun, juga sangat pragmatis: memperbesar peluang meraih kursi empuk dengan memasang orang terkenal. Selain itu, menggandeng artis akan mempertebal pundi-pundi parpol, karena artis dikenal banyak duit dan royal.

Padahal—terlepas boleh tidaknya menurut Islam—kalau memang ingin mencari perempuan sebagai pemimpin daerah, masih banyak yang pintar dan mumpuni dibanding artis. Peneliti LIPI Jaleswari Pramodyawardhani menegaskan, masih banyak perempuan handal di negeri ini yang bisa dijadikan panutan atau pemimpin (metronews.com, 1/4/2010). Bukannya merendahkan kemampuan para artis, tapi kalau yang maju memang artis rendahan, apa kata dunia-akhirat? Tampak sekali bahwa alasan memasang artis sekadar gula-gula agar disemuti. Artinya, sekadar magnet untuk menarik pemilih.

Menjaga Harga Diri

Daripada sibuk menyiapkan diri menjadi pemimpin daerah, sebaiknya para artis itu berkaca diri. Bukan hanya terkait ilmu pemerintahan yang tidak dikuasai, tapi juga ilmu keteladanan yang tidak mumpuni.

Karena itu, penuhi dulu kewajiban sebagai hamba Allah SWT, sebelum memenuhi kewajiban sebagai pemimpin daerah. Terlebih sebagai Muslimah, jalankan dulu segala perintah terkait dengan tugas keperempuanan yang ditahbiskan di pundaknya, sebelum bermimpi menjadi pemimpin bagi masyarakat banyak.

Patuhi dulu hukum-hukum syara' agar menjadi pribadi Muslimah yang shalihah. Seperti menjaga harga diri dan kemuliaan. Jangan bangga mengumbar aurat dan malah menjadikannya komoditas. Sebaliknya, tutuplah aurat secara sempurna sebagaimana perintah Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 59 (perintah berjilbab) dan surat An-Nuur ayat 31 (perintah berkerudung).

Berpenampilan sopan dan berakhlak mulia sepanjang masa adalah perintah Allah. Bukan karena pemilihan kepala daerah, bulan puasa, umrah, naik haji atau saat menikah saja. Allah Swt berfirman dalam surat An-Nuur ayat 31 yang artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (An-Nur:31).

Jelaslah, muslimah salehah bukan pengobral aurat, apalagi penggugah syahwat. Ciri muslimah shalihah adalah dia menjauhi kemaksiatan yang menjatuhkan harkat dan martabat perempuan. Seperti menjauhi kebiasaan berkhalwat alias pacaran, apalagi sampai gonta-ganti pasangan. Termasuk mencegah diri dari pergaulan bebas dan perzinaan.

Muslimah shalihah tidak akan rela kaum perempuan terjerembab dalam kenistaan. Seperti diekspolitasi habis-habisan di dunia hiburan demi pundi-pundi rupiah. Termasuk jadi pemimpin daerah, sejatinya hanyalah motif lain dari eksploitasi kepopuleran perempuan itu sendiri di ranah politik. Semua itu harus disadari kaum perempuan, termasuk para artis jika mengaku Muslimah cerdas dan bermoral.[] kholda naajiyah

Menciptakan Kebahagiaan


-Diambil dari bacaan media umat, Edisi 18 July 2010 -

Setiap orang pastilah ingin keluarganya bahagia. Sejatinya, menciptakan keluarga bahagia bukanlah hal yang susah, asalkan seluruh anggota keluarga kompak. Nah, ada beberapa kiat yang bisa dicoba dalam membina keluarga menuju kebahagiaan:

1. Jujurlah satu sama lain.
Kejujuran walaupun pahit, lebih berharga daripada apapun. Misalnya, seorang suami, hendaknya jujur memberitahukan kepada istri, seberapa besar kadar kemampuannya dalam memberikan nafkah. Dengan begitu istri dapat mengaturnya dengan baik sehingga lebih berkah bagi keluarga. Jangan suami menyembunyikan hartanya, sementara istri dibuat stres mengatur keuangan keluarga.

2. Dengarkan keluhan pasangan Anda dan anggap serius perasaannya.
Terkadang, celetukan bernada canda keluar dari mulut suami atau istri karena tidak puas terhadap pelayanan masing-masing. Hal itu jangan dianggap remeh, karena bisa jadi bumerang di kemudian hari. Carilah solusinya, karena bisa jadi itu akan menjadi persoalan besar.

3.Bila ada ganjalan sebaiknya didiskusikan sehingga tidak menimbulkan kebencian.
Komunikasi adalah kunci keselarasan hubungan. Bila ada unek-unek, sebaiknya utarakan pada pasangan. Kalau tidak mampu dengan lisan, bisa melalui tulisan. Atau cukup SMS untuk menunjukkan kegundahan kita. Dengan begitu, masalah tidak mengendap, tapi segera diketahui pasangan untuk dicarikan solusinya.

4.Tunjukkan pada pasangan bahwa Anda sayang dan membutuhkannya.
Mungkin tidak selalu dengan kata-kata, tapi kadang cukup dengan sebentuk perhatian dan bahasa tubuh. Bisa juga dengan tulisan atau SMS sebagai variasi.

5.Janganlah mengungkit-ungkit masa lalu dan belajarlah dari kesalahan.
Masa lalu adalah bagian sejarah dari hidup kita, tak bisa dihilangkan, namun hanya bisa ditekan. Jika di masa lalu ada kesalahan pasangan, kuburlah dalam-dalam. Lebih baik menatap masa depan yang lebih panjang dibanding kembali ke masa lalu, meski masa kini ada karena masa lalu. Cukuplah masa lalu jadi pelajaran, bukan jadi amunisi untuk menjatuhkan pasangan.

6. Percayalah pada pasangan.
Bila Anda ragu atau curiga, sebaiknya segera ungkapkan hal tersebut padanya. Jangan menimbun rasa curiga terus-menerus, karena hal itu akan menimbulkan prasangka buruk. Lagipula, memendam rasa curiga akan menimbulkan penyakit hati.

7. Pada saat pasangan Anda berbicara, pandanglah wajahnya sehingga ia tahu kalau Anda memperhatikan ucapannya. Dengan begitu ia merasa dihargai dan didengar.

8. Saat bertengkar jagalah perkataan Anda, jangan sampai mengatakan sesuatu yang akan disesali nanti.
Berusahalah tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Bila mencuat juga, segera bangkit, menyingkir atau ambil wudhu. Marah itu datangnya dari setan, setan dibuat dari api dan api bisa padam karena air.

9. Jagalah rahasia hubungan Anda berdua.
Tak perlu diumbar kepada siapapun, walau kepada keluarga. Termasuk membuka aib pasangan, meski dengan nada bercanda. Bila pasangan tidak rela dan sakit hati, sulit menyembuhkannya. [] kholda

Jahiliyah Modern


Ditengah malam.Waktu menunjukan pukul 23.00 dikawasan kota-kota besar separti jakarta bandung,surabaya dan kota-kota lain persisinya dilokasi-lokasi Pup dan diskotik,bukannya menyepi. Apa lagi waktu malam minggu.Terbayanglah oleh kita,para petugas dan pelayan laki-laki dan perempuan didalam sibuk menawarkan minuman keras. Tua muda kaum lelaki dan perempuan,hanyut dalam suasana lenyap hati,hilang akal.
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.(QS.58:19)

Gambaran diatas hanyalah sepenggal dari sekian banyak episode kejahaliaan sekaligus kejahatan yang terjadi di negri ini. Bagaimana Allah tidak murka ?? kekayaan yang mereka miiki digunakan untuk kejahatan dan kemaksiatan,dan ini justru makin menambah daftar beban hukuman yang kelak akan mereka rasakan.

Sabda Rasulullah saw,"Jika engkau dapati Allah Azza wa Jalla memberikan limpahan kekayaan kepada seorang hamba,padahal hamba itu tetap berada dalam kemaksiatan,maka tak lain itu merupakan penundaan tindakan dari-Nya,(HR Ahmad)

Dan allah s.w.t berfirman, "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.( QS.6:44)

Mereka akan mendapatkan siksa yang bisa jadi, datangnya secara tiba-tiba yang tiada terikira.Dan sudah banyak contohnya

Postingan Lama

Diberdayakan oleh Blogger.